Kalender Hijriah Dzulhijjah 2025

Dzulhijjah 2025 H: 2 Maret 10012 Maret 1001 Masehi

Bulan Dzulhijjah 2025 H berlangsung selama NaN hari, dimulai pada hari Senin tanggal 2 Maret 1001 Masehi dan berakhir pada 2 Maret 1001 Masehi. Ini adalah salah satu dari 12 bulan dalam tahun 2025 H yang mencakup periode 2586–2587 Masehi. Setiap tahun, bulan-bulan Hijriah bergeser sekitar 10–11 hari lebih awal dalam kalender Masehi, sehingga tanggal Masehi untuk bulan Dzulhijjah selalu berbeda dari tahun ke tahun.

Mulai: Senin, 2 Maret 1001
Berakhir: 2 Maret 1001
Jumlah hari: NaN hari

Kalender Hijriah 2025 H

Kalender Hijriah dengan tanggal Masehi. Lihat penanggalan Hijriah dan Masehi dalam satu tampilan.

Hari Ini
20 Ramadhan 1447 H
Selasa, 10 Maret 2026
1Muharram 2025
Ahd
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
2Safar 2025
Ahd
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
3Rabiul Awal 2025
Ahd
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
4Rabiul Akhir 2025
Ahd
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
5Jumadil Awal 2025
Ahd
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
6Jumadil Akhir 2025
Ahd
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
7Rajab 2025
Ahd
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
8Syaban 2025
Ahd
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
9Ramadhan 2025
Ahd
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
10Syawal 2025
Ahd
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
11Dzulkaidah 2025
Ahd
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab
12Dzulhijjah 2025
Ahd
Sen
Sel
Rab
Kam
Jum
Sab

Kalender ini menampilkan tanggal Hijriah dengan tanggal Masehi yang sesuai. Tanggal Hijriah dapat berbeda 1-2 hari tergantung pada pengamatan bulan di lokasi yang berbeda.

Bulan ke-12 Kalender Hijriah

Dzulhijjah

ذو الحجة

Dzulhijjah adalah bulan kedua belas dan penutup tahun Hijriah. Di bulan ini berlangsung ibadah haji, perayaan Idul Adha, dan sepuluh hari pertamanya merupakan hari-hari terbaik sepanjang tahun menurut hadis Nabi SAW.

Makna Nama

Pemilik haji — karena pada bulan ini dilaksanakan ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima

Bulan Haram (Bulan yang Dimuliakan)

Tentang Bulan Dzulhijjah

Dzulhijjah adalah bulan terakhir dalam kalender Hijriah dan merupakan salah satu bulan paling istimewa dalam Islam. Nama "Dzulhijjah" berarti "pemilik haji" karena di bulan inilah ibadah haji — rukun Islam kelima — dilaksanakan. Jutaan Muslim dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Mekah Al-Mukarramah untuk memenuhi panggilan Ibrahim AS dan meneladani pengabdian total kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW menegaskan keistimewaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah dalam sebuah hadis sahih: "Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak juga jihad fi sabilillah?" Beliau menjawab: "Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada satu pun yang kembali." (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah hari-hari paling utama dalam setahun, bahkan melampaui sepuluh hari terakhir Ramadhan dari segi amal harian (meskipun malam-malam Ramadhan lebih utama dari malam-malam Dzulhijjah).

Dzulhijjah juga menyaksikan peristiwa-peristiwa yang sangat bersejarah dalam tradisi Islam. Ibadah haji yang dilaksanakan di bulan ini adalah napak tilas perjalanan spiritual Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan putra mereka Nabi Ismail AS. Dari kisah pengorbanan Ibrahim yang rela menyembelih putranya atas perintah Allah, kemudian Allah menggantinya dengan seekor domba, lahirlah tradisi berkurban (Idul Adha) yang menjadi salah satu syiar terbesar Islam.

Keutamaan & Signifikansi Keagamaan

Dzulhijjah mengajarkan umat Islam tentang makna pengorbanan yang sesungguhnya. Kisah Ibrahim AS yang merelakan putranya Ismail AS atas perintah Allah SWT adalah puncak dari kepatuhan total seorang hamba kepada Tuhannya. Ini bukan tentang kekejaman, melainkan tentang keyakinan mutlak bahwa Allah tidak akan pernah mendzalimi hamba-Nya dan selalu memberikan yang terbaik. Dalam konteks modern, perintah berkurban mengajarkan Muslim untuk melepaskan kecintaan yang berlebihan terhadap harta dan mendekatkannya kepada Allah melalui berbagi dengan sesama yang membutuhkan.

Wukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah adalah puncak dari ibadah haji dan disebut sebagai "al-Hajj Arafah" (haji itu adalah Arafah). Di tempat inilah jutaan Muslim berdiri bersama dalam kesetaraan total — tanpa perbedaan ras, bangsa, kekayaan, atau status sosial — semua mengenakan pakaian ihram yang sama dan berdoa kepada Allah yang sama. Ini adalah manifestasi fisik dari ajaran Islam tentang kesetaraan manusia di hadapan Allah, hanya ketaqwaan yang membedakan derajat seseorang.

Fakta Sejarah

Ibadah haji memiliki sejarah yang jauh lebih panjang dari era Islam. Al-Qur'an menceritakan bahwa Ibrahim AS diperintahkan Allah untuk memanggil manusia agar datang berhaji ke Ka'bah yang baru saja dibangunnya bersama putranya Ismail AS (QS. Al-Hajj: 27). Ka'bah sendiri dipercaya dibangun pertama kali oleh Nabi Adam AS, kemudian dibangun kembali oleh Ibrahim dan Ismail AS. Nabi Muhammad SAW kemudian memurnikan ibadah haji dari berbagai praktek syirik dan bid'ah yang telah ditambahkan selama berabad-abad, mengembalikannya kepada bentuknya yang asli sebagaimana Ibrahim AS melakukannya.

Haji Wada' (Haji Perpisahan) yang dilakukan Nabi SAW pada tahun 10 H adalah salah satu peristiwa paling bersejarah dalam Islam. Dalam haji ini, sekitar 100.000 sahabat mengikuti Nabi SAW. Di Padang Arafah, turunlah ayat terakhir yang melengkapi syariat Islam: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu." (QS. Al-Ma'idah: 3). Tiga bulan setelah haji wada', Rasulullah SAW wafat, menjadikan haji ini sebagai wasiat terakhir dan pembekalan terakhir beliau kepada umat Islam.

Peristiwa Penting

Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah)

Jemaah haji berangkat dari Mekah menuju Mina untuk bermalam, mempersiapkan diri untuk wukuf di Arafah keesokan harinya. Bagi yang tidak berhaji, dianjurkan untuk berpuasa pada hari ini.

Hari Arafah - Wukuf (9 Dzulhijjah)

Puncak ibadah haji berupa wukuf (berdiri) di Padang Arafah. Bagi yang tidak berhaji, berpuasa pada hari Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang (HR. Muslim). Inilah salah satu hari terbaik dalam setahun.

Idul Adha — Hari Raya Kurban (10 Dzulhijjah)

Hari raya besar Islam yang merayakan pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Dirayakan dengan shalat Id berjamaah dan penyembelihan hewan kurban yang dagingnya dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat.

Hari-Hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah)

Tiga hari setelah Idul Adha yang merupakan hari-hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah. Jemaah haji melakukan mabit di Mina dan melempar jumrah selama hari-hari ini. Puasa dilarang pada hari-hari tasyrik.

Amalan yang Dianjurkan

  • Memperbanyak ibadah di sepuluh hari pertama Dzulhijjah (hari-hari terbaik dalam setahun)
  • Berpuasa pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan Arafah (9 Dzulhijjah)
  • Memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih terutama sejak 1 hingga 13 Dzulhijjah
  • Berkurban jika mampu pada Idul Adha (10 Dzulhijjah) atau hari tasyrik
  • Melaksanakan shalat Idul Adha berjamaah
  • Membagikan daging kurban kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat
  • Mendoakan saudara-saudara Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji
  • Memperbanyak membaca Al-Qur'an dan berdzikir di hari-hari awal Dzulhijjah

Informasi Bulan

Urutan Bulan
Ke-12 dari 12
Nama Arab
ذو الحجة
Bulan Haram
Ya

12 Bulan Kalender Hijriah 2025 H

Lihat kalender bulan lainnya dalam tahun 2025 H