Penggunaan Kalender Hijriah di Berbagai Negara Muslim Dunia
Mengapa awal Ramadhan atau Idul Fitri bisa berbeda antara Arab Saudi, Indonesia, dan Malaysia? Jawaban ada pada perbedaan metode dan kriteria penentuan hilal di berbagai negara.
Kalender Hijriah: Universal namun Beragam
Kalender Hijriah digunakan oleh lebih dari 1,8 miliar umat Muslim di seluruh dunia untuk keperluan ibadah. Namun paradoksnya, meski menggunakan sistem kalender yang sama, penerapannya di berbagai negara sering menghasilkan tanggal yang berbeda — terutama untuk awal bulan Ramadhan, Syawal (Idul Fitri), dan Dzulhijjah (Idul Adha). Mengapa hal ini bisa terjadi?
Arab Saudi: Kiblat Kalender Hijriah
Arab Saudi menggunakan kalender Hijriah (yang di sana disebut Kalender Umm Al-Qura) sebagai kalender resmi untuk semua urusan pemerintahan dan kehidupan sipil. Ini menjadikan Arab Saudi satu-satunya negara di dunia yang secara resmi menggunakan kalender Hijriah sebagai kalender nasional utama, bukan sekadar pelengkap.
Untuk penentuan awal bulan ibadah (Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah), Arab Saudi menggunakan sistem rukyat hilal dengan kesaksian satu atau dua orang yang dipercaya, ditangani oleh Mahkamah Agung. Sistem ini dikritik sebagian kalangan karena terlalu mengandalkan kesaksian individual yang bisa saja tidak akurat secara astronomis. Ini sebabnya Arab Saudi terkadang menetapkan awal bulan satu hari lebih awal dari prediksi astronomis standar.
Indonesia: Sidang Isbat dan Kesatuan Umat
Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sekitar 237 juta jiwa atau hampir 87% dari total penduduk. Penentuan awal bulan Hijriah untuk keperluan ibadah dilakukan oleh Kementerian Agama melalui mekanisme sidang isbat yang unik.
Sidang isbat melibatkan berbagai pemangku kepentingan: perwakilan ormas Islam besar (NU, Muhammadiyah, MUI, dll.), pakar astronomi dari BMKG dan LAPAN, perwakilan kedutaan negara-negara Muslim, dan pejabat Kemenag. Keputusan diambil berdasarkan laporan rukyat hilal dari ratusan titik pengamatan di seluruh Indonesia, dikombinasikan dengan data hisab.
Sejak 2022, Indonesia menggunakan kriteria MABIMS baru: tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Kriteria ini lebih ketat dan lebih sesuai dengan kondisi observabilitas hilal yang sebenarnya.
Malaysia dan Brunei: MABIMS dan Keseragaman Regional
Malaysia dan Brunei Darussalam, bersama Indonesia dan Singapura, tergabung dalam MABIMS (Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura). MABIMS berupaya menyeragamkan kriteria penentuan awal bulan Hijriah di kawasan Asia Tenggara, sehingga negara-negara anggota biasanya memiliki tanggal hari raya yang sama atau setidaknya lebih sering seragam dibanding sebelumnya.
Turki: Hisab Murni
Turki adalah contoh negara yang menggunakan metode hisab murni untuk kalender Hijriahnya. Diyanet İşleri Başkanlığı (Lembaga Urusan Keagamaan Turki) menerbitkan kalender Hijriah berbasis perhitungan astronomis jauh-jauh hari sebelumnya. Hasilnya, tanggal-tanggal penting dalam kalender Hijriah di Turki sudah bisa diketahui bertahun-tahun sebelumnya. Keuntungannya adalah kepastian, namun tantangannya adalah kadang berbeda dari rukyat aktual di negara lain.
Iran: Kalender Hijriah Solar
Menariknya, Iran menggunakan sistem yang disebut "Kalender Hijriah Solar" atau Tahvili, yang menghitung tahun sejak Hijrah Nabi SAW namun berdasarkan perputaran matahari (bukan bulan). Hasilnya, kalender Iran memiliki tahun yang sama panjangnya dengan kalender Masehi (365 hari), namun nomor tahunnya menggunakan era Hijriah. Ini berbeda dari kalender Hijriah lunar yang digunakan negara-negara Arab dan Indonesia. Tahun baru Iran (Nowruz) jatuh pada titik ekuinoks musim semi, sekitar 21 Maret.
Muhammadiyah: Hisab Hakiki Wujudul Hilal
Di Indonesia, Muhammadiyah menggunakan metode hisab dengan kriteria "wujudul hilal" — yaitu awal bulan dimulai jika secara astronomis bulan sudah berada di atas ufuk setelah terbenam matahari, tanpa mempertimbangkan apakah hilal bisa terlihat secara kasat mata atau tidak. Kriteria ini berbeda dari kriteria "imkan rukyah" (kemungkinan terlihat) yang digunakan pemerintah dan NU, sehingga Muhammadiyah sering kali menetapkan awal bulan satu hari lebih awal.
Mengapa Perbedaan Ini Terjadi?
Perbedaan tanggal hari raya antar negara dan antar organisasi pada dasarnya disebabkan oleh tiga hal:
- Perbedaan metode: rukyat vs hisab
- Perbedaan kriteria: tinggi hilal minimum yang berbeda-beda
- Perbedaan wilayah geografis: hilal bisa terlihat di satu wilayah tapi tidak di wilayah lain pada hari yang sama
Menuju Keseragaman Global?
Impian keseragaman kalender Islam global sudah lama digagas. Berbagai lembaga internasional seperti OKI (Organisasi Kerjasama Islam) dan ISNA (Islamic Society of North America) telah berulang kali membahas kemungkinan penyatuan kalender Islam berbasis hisab yang presisi. Namun perdebatan fikih yang mendalam tentang metode yang sah membuat penyatuan ini belum bisa terwujud.
Kesimpulan
Keberagaman dalam penentuan kalender Hijriah mencerminkan kekayaan ijtihad dalam tradisi Islam. Bagi umat Islam di Indonesia, yang terpenting adalah mengikuti keputusan otoritas yang dipercaya (pemerintah atau ormas yang diikuti) dan bersikap toleran terhadap perbedaan yang ada. Perbedaan satu hari dalam hari raya bukanlah alasan untuk perpecahan, melainkan manifestasi kekayaan tradisi fikih Islam.