Sejarah Islam9 menit baca

Isra Mi'raj: Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad SAW yang Luar Biasa

Oleh Tim Kalender Muslim·15 Februari 2024

Isra Mi'raj adalah perjalanan paling menakjubkan dalam sejarah manusia. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW menempuh jarak yang normalnya butuh berbulan-bulan, bahkan melampaui batas dunia fisik.

Konteks: Tahun Kesedihan

Untuk memahami mengapa Isra Mi'raj sangat penting, kita perlu memahami konteks historisnya. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun ke-10-11 kenabian, pada masa yang disebut para sejarawan Islam sebagai "Amul Huzn" (Tahun Kesedihan). Dalam waktu singkat, Nabi Muhammad SAW kehilangan dua orang yang paling beliau cintai dan paling melindunginya: Khadijah RA (istri tercinta) wafat karena sakit, dan Abu Thalib (paman yang selama ini menjadi pelindung beliau di Mekah) juga wafat.

Tanpa perlindungan Abu Thalib, kaum Quraisy semakin berani menyakiti Nabi SAW. Bahkan ketika beliau pergi berdakwah ke Thaif berharap mendapat penerimaan, penduduk Thaif justru mengusir dan melemparinya dengan batu hingga berdarah. Ini adalah masa paling berat dalam hidup Nabi SAW.

Di tengah kesedihan inilah Allah SWT memberikan hadiah yang luar biasa kepada Nabi-Nya: sebuah perjalanan yang melampaui batas-batas fisik dan spiritual, yang akan menjadi obat bagi luka hati beliau dan penguatan untuk dakwah yang masih panjang di depan.

Isra: Perjalanan Malam dari Mekah ke Yerusalem

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 1: "Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami."

Isra adalah perjalanan horizontal — dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Yerusalem (Al-Quds), Palestina. Jarak antara kedua tempat ini sekitar 1.500 km, yang pada zaman itu membutuhkan perjalanan berbulan-bulan dengan unta. Namun Allah SWT memperjalankan Nabi SAW dalam satu malam dengan tunggangan yang disebut Buraq.

Di Masjidil Aqsha, Nabi Muhammad SAW disambut oleh para nabi dan rasul terdahulu. Beliau kemudian mengimami shalat bagi para nabi tersebut — sebuah simbolisasi yang sangat kuat bahwa Islam adalah penyempurna dari seluruh risalah kenabian sebelumnya, dan Muhammad SAW adalah pemimpin dari seluruh para nabi.

Mi'raj: Perjalanan Vertikal ke Langit

Setelah Isra, dimulailah Mi'raj — perjalanan vertikal naik ke langit-langit tertinggi. Nabi SAW naik melewati tujuh lapisan langit, di mana pada setiap langit beliau bertemu dengan para nabi:

  • Langit pertama: Nabi Adam AS, manusia pertama dan bapak umat manusia
  • Langit kedua: Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS
  • Langit ketiga: Nabi Yusuf AS, yang terkenal dengan ketampanan dan kesabaran
  • Langit keempat: Nabi Idris AS
  • Langit kelima: Nabi Harun AS
  • Langit keenam: Nabi Musa AS
  • Langit ketujuh: Nabi Ibrahim AS, yang sedang bersandar di Baitul Makmur

Sidratul Muntaha dan Penerimaan Shalat Lima Waktu

Di atas langit ketujuh, Nabi SAW mencapai Sidratul Muntaha — batas terakhir yang bisa dicapai oleh makhluk. Di sinilah Allah SWT mewahyukan kepada Nabi-Nya perintah shalat lima waktu, bukan melalui perantara Malaikat Jibril sebagaimana wahyu-wahyu lainnya, melainkan secara langsung (tanpa tabir).

Awalnya Allah memerintahkan shalat lima puluh waktu dalam sehari. Dalam perjalanan turun, Nabi SAW bertemu dengan Musa AS yang menyarankan agar beliau kembali dan memohon keringanan, karena umat Muhammad tidak akan sanggup menunaikan 50 waktu shalat. Nabi SAW berkali-kali kembali memohon keringanan hingga akhirnya ditetapkan lima waktu shalat, namun dengan pahala lima puluh.

Peristiwa ini mengajarkan kepada kita betapa istimewanya shalat lima waktu. Dari semua kewajiban dalam Islam, hanya shalat yang diterima langsung dari Allah tanpa perantara. Itulah mengapa para ulama menyebut shalat sebagai "mi'raj-nya orang beriman" — sarana untuk "naik" menemui Allah melalui ibadah.

Tantangan dan Hikmah

Ketika pagi harinya Nabi SAW menceritakan pengalamannya kepada orang-orang Mekah, reaksi mereka beragam. Sebagian kaum Quraisy justru menertawakannya dan menganggap ini bukti bahwa Muhammad sudah gila. Beberapa orang yang baru saja memeluk Islam pun goyah keimanannya.

Namun Abu Bakar As-Shiddiq bereaksi berbeda. Ketika diberitahu tentang cerita ini, ia langsung berkata: "Jika memang itu yang dikatakan Muhammad, maka aku mempercayainya." Inilah mengapa Abu Bakar mendapat gelar "As-Shiddiq" (yang membenarkan) — karena ia langsung mempercayai kabar yang secara akal biasa sangat sulit diterima.

Tanggal dan Peringatan Isra Mi'raj

Isra Mi'raj secara tradisional diperingati pada tanggal 27 Rajab setiap tahun Hijriah. Di Indonesia, hari ini bahkan ditetapkan sebagai hari libur nasional. Peringatan Isra Mi'raj sebaiknya diisi dengan kegiatan yang bermakna: kajian tentang makna peristiwa ini, penguatan tekad untuk menjaga shalat, dan refleksi tentang hubungan kita dengan Allah SWT.

Kesimpulan

Isra Mi'raj adalah mukjizat terbesar yang dialami Nabi Muhammad SAW secara langsung. Lebih dari sekadar peristiwa supranatural yang menakjubkan, ia adalah pelajaran mendalam tentang keimanan yang melampaui batas logika biasa, tentang shalat sebagai tiang agama, dan tentang bagaimana Allah selalu menghibur hamba-Nya yang sedang berduka dengan cara yang paling luar biasa.

Tag:isra mirajrajabshalat lima waktumukjizat nabi